Jumat, 15 November 2013

Pengetahuan

Pengetahuaan dan klasifikasinya Pengetahuan adalah informasi atau maklumat yang diketahui atau disadari oleh seseorang. Pengetahuan termasuk, tetapi tidak dibatasi pada deskripsi, hipotesis, konsep, teori, prinsip dan prosedur yang secara Probabilitas Bayesian adalah benar atau berguna.Dalam pengertian lain, pengetahuan adalah berbagai gejala yang ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan akal. Pengetahuan muncul ketika seseorang menggunakan akal budinya untuk mengenali benda atau kejadian tertentu yang belum pernah dilihat atau dirasakan sebelumnya. Misalnya ketika seseorang mencicipi masakan yang baru dikenalnya, ia akan mendapatkan pengetahuan tentang bentuk, rasa, dan aroma masakan tersebut. Pengetahuan adalah informasi yang telah dikombinasikan dengan pemahaman dan potensi untuk menindak yang lantas melekat di benak seseorang. Pada umumnya, pengetahuan memiliki kemampuan prediktif terhadap sesuatu sebagai hasil pengenalan atas suatu pola. Manakala informasi dan data sekedar berkemampuan untuk menginformasikan atau bahkan menimbulkan kebingungan, maka pengetahuan berkemampuan untuk mengarahkan tindakan. Ini lah yang disebut potensi untuk menindak Ilmu Sosial Ilmu pengetahuan sosial adalah Sekelompok disiplin akademis yang mempelajari aspek-aspek yang berhubungan manusia dan lingkungan sosialnya.Ilmu ini berbeda degan seni humoniora karena menekankan pengunaan metode ilmiah dalam mempelajari manusia termaksu metode kuatitatif dan kualitatif .Istilah ini juga termaksuk mengembangkan penelitian dengan cangkupan yang luas dalam berbagai lapanganyang luas meliputi perilaku dan interaksi manusia.berbeda dengan ilmu sosial secara umum,Ips tidak memusatkan diri pada satu topik.Ilmu dalam mempelajari aspek-aspek masyarakat sacara subjektif dan ojektif atu struktural,sebelumya diangap kurang ilmiah bila dibanding dengan ilmu alam Klasifikasi pengetahuan Ilmu Alam Ilmu alam (bahasa Inggris: natural science; atau ilmu pengetahuan alam) adalah istilah yang digunakan yang merujuk pada rumpun ilmu dimana obyeknya adalah benda-benda alam dengan hukum-hukum yang pasti dan umum, berlaku kapan pun dimana pun. Sains (science) diambil dari kata latin scientia yang arti harfiahnya adalah pengetahuan. Sund dan Trowbribge merumuskan bahwa Sains merupakan kumpulan pengetahuan dan proses. Sedangkan Kuslan Stone menyebutkan bahwa Sains adalah kumpulan pengetahuan dan cara-cara untuk mendapatkan dan mempergunakan pengetahuan itu. Sains merupakan produk dan proses yang tidak dapat dipisahkan. "Real Science is both product and process, inseparably Joint" (Agus. S. 2003: 11) Sains sebagai proses merupakan langkah-langkah yang ditempuh para ilmuwan untuk melakukan penyelidikan dalam rangka mencari penjelasan tentang gejala-gejala alam. Langkah tersebut adalah merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, merancang eksperimen, mengumpulkan data, menganalisis dan akhimya menyimpulkan. Dari sini tampak bahwa karakteristik yang mendasar dari Sains ialah kuantifikasi artinya gejala alam dapat berbentuk kuantitas Ilmu alam mempelajari aspek-aspek fisik & nonmanusia tentang Bumi dan alam sekitarnya. Ilmu-ilmu alam membentuk landasan bagi ilmu terapan, yang keduanya dibedakan dari ilmu sosial, humaniora, teologi, dan seni Ilmu Astronomi Astronomi, yang secara etimologi berarti “ilmu bintang” adalah ilmu yang melibatkan pengamatan dan penjelasan kejadian yang terjadi di luar Bumi dan atmosfernya. Ilmu ini mempelajari asal-usul, evolusi, sifat fisik dan kimiawi benda-benda yang bisa dilihat di langit (dan di luar Bumi), juga proses yang melibatkan mereka.Selama sebagian abad ke-20, astronomi dianggap terpilah menjadi astrometri, mekanika langit, dan astrofisika. Status tinggi sekarang yang dimiliki astrofisika bisa tercermin dalam nama jurusan universitas dan institut yang dilibatkan di penelitian astronomis: yang paling tua adalah tanpa kecuali bagian ‘Astronomi’ dan institut, yang paling baru cenderung memasukkan astrofisika di nama mereka, kadang-kadang mengeluarkan kata astronomi, untuk menekankan sifat penelitiannya. Selanjutnya, penelitian astrofisika, secara khususnya astrofisika teoretis, bisa dilakukan oleh orang yang berlatar belakang ilmu fisika atau matematika daripada astronomi.Astronomi adalah salah satu di antara sedikit ilmu pengetahuan di mana amatir masih memainkan peran aktif, khususnya dalam hal penemuan dan pengamatan fenomena sementara. Astronomi jangan dikelirukan dengan astrologi, ilmusemu yang mengasumsikan bahwa takdir manusia dapat dikaitkan dengan letak benda-benda astronomis di langit. Meskipun memiliki asal-muasal yang sama, kedua bidang ini sangat berbeda; astronom menggunakan metode ilmiah, sedangkan astrolog tidak. Ilmu Matematika(Ilmu Pasti) Matematika (dari bahasa Yunani: μαθηματικά - mathēmatiká) adalah studi besaran, struktur, ruang, dan perubahan. Para matematikawan mencari berbagai pola, merumuskan konjektur baru, dan membangun kebenaran melalui metode deduksi yang kaku dari aksioma-aksioma dan definisi-definisi yang bersesuaian. Terdapat perselisihan tentang apakah objek-objek matematika seperti bilangan dan titik hadir secara alami, atau hanyalah buatan manusia. Seorang matematikawan Benjamin Peirce menyebut matematika sebagai "ilmu yang menggambarkan simpulan-simpulan yang penting". Di pihak lain, Albert Einstein menyatakan bahwa "sejauh hukum-hukum matematika merujuk kepada kenyataan, mereka tidaklah pasti; dan sejauh mereka pasti, mereka tidak merujuk kepada kenyataan." Melalui penggunaan penalaran logika dan abstraksi, matematika berkembang dari pencacahan, perhitungan, pengukuran, dan pengkajian sistematis terhadap bangun dan pergerakan benda-benda fisika. Matematika praktis telah menjadi kegiatan manusia sejak adanya rekaman tertulis. Argumentasi kaku pertama muncul di dalam Matematika Yunani, terutama di dalam karya Euklides, Elemen. Matematika selalu berkembang, misalnya di Cina pada tahun 300 SM, di India pada tahun 100 M, dan di Arab pada tahun 800 M, hingga zaman Renaisans, ketika temuan baru matematika berinteraksi dengan penemuan ilmiah baru yang mengarah pada peningkatan yang cepat di dalam laju penemuan matematika yang berlanjut hingga kini. Kini, matematika digunakan di seluruh dunia sebagai alat penting di berbagai bidang, termasuk ilmu alam, teknik, kedokteran/medis, dan ilmu sosial seperti ekonomi, dan psikologi. Matematika terapan, cabang matematika yang melingkupi penerapan pengetahuan matematika ke bidang-bidang lain, mengilhami dan membuat penggunaan temuan-temuan matematika baru, dan kadang-kadang mengarah pada pengembangan disiplin-disiplin ilmu yang sepenuhnya baru, seperti statistika dan teori permainan. Para matematikawan juga bergulat di dalam matematika murni, atau matematika untuk perkembangan matematika itu sendiri, tanpa adanya penerapan di dalam pikiran, meskipun penerapan praktis yang menjadi latar munculnya matematika murni ternyata seringkali ditemukan terkemudian. Referensi 1.Wordpress.com 2.Idwikeipedia.org 3.Meliononirmayanti,dkk mpkt modul 1jakarta 4.Sosial scicece etnics:Abibliography sharon stoerger Mls.Mba

Minggu, 10 November 2013

asuhan keperawatan Katarak



BAB 1
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Kebutaan di Indonesia merupakan bencana Nasional. Sebab kebutaan menyebabkan kualitas sumber daya manusia rendah. Hal ini berdampak pada kehilangan produktifitas serta membutuhkan biaya untuk rehabilitasi dan pendidikan orang buta. Berdasarkan hasil survey nasional tahun 1993 – 1996, angka kebutaan di Indonesia mencapai 1,5 %. Angka ini menempatkan Indonesia pada urutan pertama dalam masalah kebutaan di Asia dan nomor dua di dunia pada masa itu.
Salah satu penyebab kebutaan adalah katarak. sekitar 1,5 % dari jumlah penduduk di Indonesia, 78 % disebabkan oleh katarak. Pandangan mata yang kabur atau berkabut bagaikan melihat melalui kaca mata berembun, ukuran lensa kacamata yang sering berubah, penglihatan ganda ketika mengemudi di malam hari , merupakan gejala katarak. Tetapi di siang hari penderita justru  merasa silau karena cahaya yang masuk ke mata terasa berlebih.
Begitu besarnya resiko masyarakat Indonesia  untuk menderita katarak memicu kita dalam  upaya pencegahan. Dengan memperhatikan gaya hidup, lingkungan yang sehat dan menghindari pemakaian bahan-bahan kimia yang dapat merusak akan membuta kita terhindar dari berbagai jenis penyakit dalam stadium yang lebih berat yang akan menyulitkan upaya penyembuhan.
Sehingga kami sebagai mahasiswa keperawatan memiliki solusi dalam mencegah dan menanggulangi masalah katarak yakni dengan memberikan sebuah raangkuman makalah tentang katarak sebagai bahan belajar dan pendidikan bagi mahasiswa keperawatan.

B. Tujuan
            Tujuan Umum
            Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman dalam melaksanakan proses asuhan keperawatan pada klien dengan penyakit Katarak.
Tujuan Khusus
a.              Diharapkan mahasiswa dapat mengetahui definisi penyakit Katarak
b.             Diharapkan mahasiswa dapat mengetahui klasifikasi  penyakit Katarak
c.              Diharapkan mahasiswa dapat mengetahui etiologi penyakit Katarak
d.             Diharapkan mahasiswa dapat mengetahui patofisiologi penyakit Katarak
e.              Diharapkan mahasiswa dapat mengetahui manifestasi klinik dari penyakit Katarak
f.              Diharapkan mahasiswa dapat mengetahui pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang penyakit Katarak
g.             Diharapkan mahasiswa dapat mengetahuipenaltalaksanaan penyakit Katarak
h.             Diharapkan mahasiswa dapat mengetahui komplikasi dari penyakit Katarak
i.               Diharapkan mahasiswa dapat mengetahui asuhan keperawatan penyakit Katarak

C. Metode Penulisan
Metode penulisan yang digunakan adalah  metode studi pustaka yaitu mengambil referensi dari buku-buku, internet dan sumber-sumber lain.



BAB II
PEMBAHASAN

A.  Defenisi Penyakit Katarak
Katarak berasal dari bahasa Yunani “cataracta”yang berarti air terjun. Katarak merupakan keadaan di mana terjadi kekeruhan pada serabut atau bahan lensa di dalam kapsul lensa (Sidarta Ilyas, 1998).
Katarak adalah proses terjadinya opasitas secara progresif pada lensa atau kapsul lensa, umumnya akibat dari proses penuaan yang terjadi pada semua orang lebih dari 65 tahun (Marilynn Doengoes, dkk. 2000).
Katarak adalah nama yang diberikan untuk kekeruhan lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan lensa), denaturasi protein lensa atau dapat juga akibat dari kedua-duanya yang biasanya mengenai kedua mata dan berjalan progesif. (Mansjoer,2000;62)
Katarak adalah opasitas lensa kristalina yang normalnya jernih. Biasanya terjadi akibat proses penuaan tapi dapat timbul pada saat kelahiran( katarak kongenital). ( brunner & suddarth .2001, keperawatan medikal bedah vol.3, EGC. Jakarta ).
Katarak adalah penurunan progresif kerjernihan lensa. Lensa menjadi keruh, atau berwarna putih abu-abu, dan ketajaman penglihatan berkurang.
( elizabeth J. corwin.2000, buku saku patofisiologi, EGC. Jakarta ).
    Katarak(pasca operasi) adalah terjadinya opasitas progresif pada lensa atau kapsul lensa, umumnya akibat dari proses penuaan yang terjadi pada semua orang lebih dari 65 tahun.( Rencana Asuhan Keperawatan,M.E.Doenges. Jakarta.EGC.1999).
Jadi kesimpulan dari definisi diatas katarak adalah suatu keadaan patologik lensa di mana lensa rnenjadi keruh akibat hidrasi cairan lensa, atau denaturasi protein lensa. Kekeruhan ini terjadi akibat gangguan metabolisme normal lensa yang dapat timbul pada berbagai usia tertentu.




B.  Klasifikasi  Katarak
Macam-macam katarak :
1.      Katarak senil
Katarak senil adalah semua kekeruhan lensa yang terdapat pada usia lanjut, yaitu usia di atas 50 tahun. Pada katarak senil akan terjadi degenerasi lensa secara perlahan-lahan. Tajam penglihatan akan menurun secara berangsur-angsur  hingga tinggal proyeksi sinar saja. Katarak senil merupakan katarak yang terjadi akibat terjadinya degenerasi serat lensa karena proses penuaan.

Ø  Katarak senil dapat terbagi dalam berberapa stadium :
a.         Katarak insipiens
Katarak insipiens,dimana mulai timbul katarak akibat proses degenerasi lensa. Kekeruhan lensa berbentuk bercak-bercak kekeruhan yang tidak teratur. Pasien akan mengeluh gangguan penglihatan seperti melihat ganda dengan satu matanya. Pada stadium ini proses degenerasi belum menyerap cairan mata ke dalam lensa sehingga akan terlihat bilik mata depan dengan kedalaman yang normal, iris dalam posisi biasa disertai dengan kekeruhan ringan pada lensa. Tajam penglihatan pasien belum terganggu.
b.        Katarak imatur
Katarak imatur,dimana pada stadium ini lensa yang degeneratif mulai terserap cairan mata ke dalam lensa sehingga lensa menjadi cembung. Terjadi pembengkakan lensa yang disebut sebagai katarak intumesen. Pada katarak imatur maka penglihatannya mulai berangsur-angsur menjadi berkurang, hal ini diakibatkan media penglihatan tertutup oleh kekeruhan lensa yang menebal.
c.        Katarak matur
Katarak matur, merupakan proses degenarasi lanjut lensa. Terjadi kekeruhan seluruh lensa. Tekanan cairan di dalam lensa sudah keadaan seimbang dengan cairan dalam mata sehingga ukuran lensa akan menjadi normal kembali. Tajam penglihatan sangat menurun dan dapat hanya tinggal proyeksi saja.



d.        Katarak hipermatur
Katarak hipermatur, dimana pada stadium ini terjadi proses degenerasi lanjut lensa  dan korteks lensa dapat mencair sehingga nukleus lensa tenggelam di dalam korteks lensa ( katarak morgagni). Pada stadium ini terjadi juga degenerasi kapsul lensa sehingga bahan lensa ataupun korteks lensa yang cair keluar dan masuk ke dalam bilik mata depan. Pada stadium hipermatur akan terlihat lensa yang lebih kecil dari pada normal, yang akan mengakibatkan iris trimulans, dan bilik mata depan terbuka.
 
2.      Katarak kongenital
  Katarak kongenital merupakan kekeruhan lensa yang didapatkan sejak lahir, dan terjadi akibat gangguan perkembangan embrio intrauterin. Katarak kongenital yang terjagi sejak perkembangan serat lensa terlihat segera setelah bayi lahir sampai usia 1 tahun. Katarak ini terjadi karena gangguan metabolisme serat-serat lensa pada saat pembentukan serat lensa akibat gangguan metabolisme jaringan lensa pada saat bayi masih di dalam kandungan. Pada bayi dengan katarak kongenital akan terlihat bercak putih di depan pupil yang disebut sebagai leukokoria (pupil berwarna putih). Setiap bayi dengan lekokoria sebaiknya difikirkan diagnosis bandingan seperti retinoblastoma, endoftalmitis, fibroplasi retroletal, hiperplastik viterus primer, dan miopia tinggi disamping katarak sendiri.

Ø  Berberapa macam jenis katarak kongenital          :
            a.    Katarak lamelar atau zonular
              Bila pada permulaan perkembangan serat lensa normal dan kemudian terjadi gangguan perkembangan serat lensa. Biasanya perkembangan serat lensa selanjutnya normal kembali sehingga nyata terlihat adanya gangguan perkembangan serta  lensa pada satu lamel daripada perkembangan lensa tersebut. Katarak lamelar bersifat herediter yang diturunkan secara dominan dan biasanya bilateral. Tindakan pengobatan atau pembedahan dilakukan bila fundus okuli tidak tampak pada pemeriksaan funduskopi.
                               

                  b.    Katarak polaris posterior
              Katarak polaris posterior ini terjadi akibat arteri hialoid yang menetap (persisten) pada saat tidak dibutuhakan lagi oleh lensa untuk metabolismenya. Ibu dan bayi akan melihat adanya leukokoria pada mata tersebut. Pada pemeriksaan akan terlihat kekeruhan di dataran belakang lensa. Bila dilakukan pemeriksaan funduskopi akan terlihat serat sisa arteri hialoid yang menghubungkan lensa bagian belakang dengan papil saraf optik. Adanya arteri hialoid yang menetap ini dapt dilihat dengan pemeriksaan ultrasonografi. Bila fundus okuli masih terlihat, maka perlu tindakan bedah pada katarak polar posterior ini karena tidak akan terjadi ambilopia eksanopsia. Bila fudus okuli tidak tampak, maka dialakukan tindakan bedah iridektomi optik atau bila mungkin dilakukan lesenktomi. Ekstrasi linear ataupun disisio lentis merupakan kontra indikasi karena akan terjadi tarikan arteri hialoid dengan papil yang dapat mengakibatkan ablasi retina.

            c.    Katarak polaris anterior
              Katarak polaris arterior atau piramidalis arterior akibat gangguan perkembangan lensa pada saat mulai terbentuknya plakoda lensa. Pada saat ibu dengan kehamilan kurang dari 3 bulan mendapat infeksi virus, maka amnionya akan mengandung virus. Plakoda lensa akan mendapat infeksi virus hingga rubela masuk ke dalam vesikel akan menjadi lensa. Gambaran klinis akan terjadi ialah adanya keluhan ibu karena anaknya mempunyai leukokoria. Pada pemeriksaan subjektif akan terlihat kekeruhan pada kornea dan terdapatnaya fibrosis di dalam bilik mata depan yang menghubungkan kekeruhan kornea dengan lensa yang keruh. Kekeruhan yang terlihat pada lensa terletak di polus anterior lensa dalam bentuk piramid dengan puncak di dalam bilik mata depan. Kekeruhan lensa pada katarak polar anterior ini tidak progresif. Pengobatan dilakukan bila kekeruhan mengakibatkan tidak terlihatnya fundus bayi tersebut. Tindakan bedah yang dilakukan adalah disisio lentis atau suatu ekstraksi linear.


  


      d.    Katarak sentral
              Katarak sentral merupakan katarak halus yang terlihat pada bagian nukleus embrional. Katarak ini terdapat 80% orang normal dan tidak menggangu tajam penglihatan. Pengobatan tidak dilakukan pada katarak sentral karena tidak menggangu tajam penglihatan dan fundus okuli dapat dilihat dengan mudah.

3.  Katarak traumatik
              Katarak traumatik adalah katarak yang terjadi akibat trauma lensa mata, serta robekan pada kapsul sebagai akibat dari benda tajam. Apabila terjadi lubang yang besar pada kapsul lensa, maka humor akuosus akan masuk ke dalam lensa dan menyebabkan penyerapan lensa, serta menyebabkan uveitis.

a.    Katarak juvenil
            Katarak juvenil adalah katarak yang terlihat setelah usia 1 tahun dapat terjadi  karena :
                  a.    Lanjutan katarak kongenital yang makin nyata.
                  b.    Penyulit penyakit lain, katarak komplikata, yang dapat terjadi akibat :
      -  Penyakit lokal pada satu mata,seperti akibat uveitis anterior, glaukoma, ablasi     
        retiana, miopia tinggi, ftsis bulbi, yang mengenai satu mata.
      - Penyakit sistemik, seperti diabetes, hipoparatiroid, dan miotonia distrofi,yang
       mengenai kedua mata akibat trauma tumpul ataupun tajam
Biasanya katarak juvenil ini merupakan katarak yang didapat dan banyak    dipengaruhi oleh berberapa faktor.

      b. Katarak komplikata
              Katarak komplikata terjadi akibat gangguan keseimbangan susunan sel lensa faktor fisik atau kimiawi sehingga terjadi gangguan kejernihan lensa. Katarak komplikata dapat terjadi akibat iridosiklitis, miopia tinggi, abalasi retina dan glaukoma.




Katarak komplikata dapat terjadi akibat kelainan sistemik yang akan mengenai kedua mata atau kelainan lokal yang akan mengenai satu mata.

            c. Katarak diabetika
Katarak diabetika adalah katarak yang disebabkan oleh penyakit diabetes.

C.   Etiologi
Berbagai macam hal yang dapat mencetuskan katarak antara lain (Corwin,2000):
1.    Usia lanjut dan proses penuaan.
2.    Congenital atau bisa diturunkan.
3.    Pembentukan katarak dipercepat oleh faktor lingkungan, seperti merokok atau bahan beracun lainnya.  
4.    Katarak bisa disebabkan oleh cedera mata, penyakit metabolik (misalnya diabetes) dan obat-obat tertentu (misalnya kortikosteroid).  
Katarak juga dapat disebabkan oleh beberapa faktor risiko lain, seperti:
1.    Katarak traumatik yang disebabkan oleh riwayat trauma/cedera pada mata.
2.    Katarak sekunder yang disebabkan oleh penyakit lain, seperti: penyakit/gangguan metabolisme, proses peradangan pada mata, atau diabetes melitus.
3.    Katarak yang disebabkan oleh paparan sinar radiasi.          
4.    Katarak yang disebabkan oleh penggunaan obat-obatan jangka panjang, seperti kortikosteroid dan obat penurun kolesterol.
5.    Katarak kongenital yang dipengaruhi oleh faktor genetik (Admin,2009).


 


E. Manifestasi Klinik

Katarak didiagnosa terutama dengan gejala subyektif. Biasanya, pasien melaporkan penurunan ketajaman penglihatan dan silau dan gangguan fungsional sampai derajat tertentu yang diakibatkan karena kehilangan penglihatan tadi. Temuan obyektif biasanya meliputi pengembunan seperti mutiara keabuan pada pupil sehingga retina tak akan tampak dengan oftalmoskop.
Ketika lensa sudah menjadi opak, cahaya akan dipendarkan dan bukannya ditransmisikan dengan tajam menjadi bayangan terfokus pada retina hasilnya adalah pandangan kabur atau redup, menyhilaukan yang menjengkelkan dengan distorsi bayangan dan susah melihat di malam hari. Pupil yang normalnya hitam akan tampak kekuningan, abu-abu atau putih. Katarak biasanya terjadi bertahap selama bertahun-tahun, dan ketika katarak sudah sangat memburuk, lensa koreksi yang lebih kuatpun tak akan mampu memperbaiki penglihatan.
Orang dengan katarak secara khas selalu mengembangkan strategi untuk menghindari silau yang menjengkelkan yang disebabkan oleh cahaya yang salah arah. Misalnya ada yang mengatur ulang perabot rumahnya. Sehingga sinar tidak akan langsung menyinari mata mereka (Diambil dari buku Keperawatan Medikal Bedah jilid 3 hal.1996-1997).
Biasanya gejala berupa keluhan penurunan tajam pengelihatan secara progresif (seperti rabun jauh memburuk secara progresif). Pengelihatan seakan-akan melihat asap dan pupil mata seakan akan bertambah putih. Pada akhirnya apabila katarak telah matang pupil akan tampak benar-benar putih ,sehingga refleks cahaya pada mata menjadi negatif (-).
Bila Katarak dibiarkan maka akan mengganggu penglihatan dan akan dapat menimbulkan komplikasi berupa Glaukoma dan Uveitis.
                        Gejala umum gangguan katarak meliputi        :
                  1.    Penurunan ketajaman penglihatan
                  2.    Gangguan fungsional
                  3.    Pengembunan seperti mutiara keabuan pada pupil
                  4.    Pandangan kabur


     
F. Pemeriksaan Fisik

Tehnik yang biasanya dipergunakan dalam pemeriksaan oftalmologis adalah inspeksi dan palpasi. Inspeksi visual dilakukan dengan instrumen oftalmik khusus dan sumber cahaya. Palpasi bisa dilakukan untuk mengkaji nyeri tekan mata dan deformitas dan untuk mengeluarkan cairan dari puncta. Palpasi juga dilakukan untuk mendeteksi secara kasar(jelas terlihat )  tingkat tekanan intraokuler.
Seperti pada semua pemeriksaan fisik, perawat menggunakan pendekatan sitematis, biasanya dari luar ke dalam. Struktur eksternal mata dan bola mata di evaluasi lebih dahulu, kemudian diperiksa struktur internal. Struktur eksternal mata diperiksa terutama dengan inspeksi. Struktur ini meliputi alis, kelopak mata, bulu mata, aparatus maksilaris, konjungtiva, kornea, kamera anterior, iris, dan pupil.
Ketika melakukan pemeriksaan dari luar ke dalam, perawat  :
a.    Melakukan obsevasi keadaan umum mata dari jauh.
b.    Alis diobsevasi mengenai kuantitas dan penyebaran rambutnya. Kelopak mata diinspeksi warna,keadaan kulit, dan ada tidaknya serta arahnya tumbuhnya bulu mata.
c.    Catat adanya jaringan parut, pembengkakan, lepuh, laserasi, cedera lain dan adanya benda asing.

G. Pemeriksaan Penunjang

1.    Kartu mata snellen/mesin telebinokular (test ketajaman penglihatan dan sentral penglihatan): mungkin terganggu dengan kerusakan kornea,lensa, akueus atau vitreus humor, kesalahan refraksi,  atau penyakit sistem saraf atau penglihatan ke retina atau jalan optik.
2.    Lapang penglihatan : penurunan mungkin disebabkan oleh CSV, massa tumor pada hipofisis/ otak, karotis atau patologis arteri serebral atau glaukoma.
3.    Pengukuran tonografi : mengkaji intraorkuler (TIO)(NORMAL 12-25 mm Hg).
Pengukuran gonioskopi : membantu membedakan sudut terbuka atau sudut tertutup glaukoma.
4.    Test provokatif : digunakan dalam menentukan adanya/tipe glaukoma bila TIO normal atau hanya meningkat ringan.
5.    Pemeriksaan oftalmoskopi           : mengkaji struktur internal okuler, mencatat atropi lepeng optik, papiledema, pendarahan retina,dan mikroaneurisme. Dilatasi dan pemeriksaan belahan-lampu memastikan diagnosa katarak.
6.    Darah lengkap, laju sedimentasi (LED) : menunjukan anemia sistemik/ infeksi.
EKG, kolestrol serum, dan pemeriksaan lipid : dilakukan untuk memastikan arterosklerosis, PAK.
7.    Test toleransi glaukosa/ FBS : menentukan adanya/kontrol diabetes.

H. Penatalaksanaan

Tidak ada terapi obat untuk katarak, dan tak dapat diambil dengan pembesaran laser. Namun, masih terus dilakukan penelitian mengenai kemajuan prosedur laser baru yang dapat digunakan untuk mencairkan lensa sebelum dilakukan pengisapan keluar melalui kanula (Pokalo, 1992).
Bila penglihatan dapat dikoreksi dengan dilator pupil dan reflaksi kuat sampai titik dimana pasien melakukan aktivitas hidup sehari-hari, maka penanganan biasanya konservatif. pentingnya di kaji efek katarak terhadap kehidupan sehari-hari pasien. Mengkaji derajat gangguan fungsi sehari-hari, seperti berdandan, ambulasi, aktifitas rekreasi, menyetir mobil, dan kemampuan bekerja, sangat penting untuk menentukkan terapi mana yang paling cocok bagi masing-masing penderita.
Pembedahan diindikasikan bagi mereka yang memerlukan penglihatan akut untuk berkerja ataupun keamanan. Biasanya diindikasikan bila koreksi tajam penglihatan yang terbaik dapat dicapai adalah 20/50 atau lebih buruk lagi, bila pandangan tajam mempengaruhi keamanan atau kwalitas hidup, atau bila virsualisasi segmen posterior sangat perlu mengevalusi perkembangan berbagi penyakit retina atau saraf optikus, seperti pada diabetes dan glaukoma.
Pembedahan katarak adalah pembedahan yang sering dilakukan pada orang berusia lebih dari 65. masa kini, katarak paling sering diangkat dengan anestesia lokal berdasar pasien rawat jalan, meskipun pasien perlu dirawat bila ada indikasi medis. Keberhasilan pengembalian penglihatan yang bermanfaat dapat dicapai pada 95% pasien.




Pengamblian keputusan untuk menjalani pembedahan sangat individual sifatnya. Dukungan finansial dan psikososial dan konsekuensi pembedahan harus dievaluasi, karena sangat penting untuk penatalaksanaan pasien pasca operasi.
Kebanyakan operasi dilakukan dengan anestesi lokal (retrobulbar atau peribulbar), yang dapat mengimobilisasi mata. Obat penghilang cemas dapat diberikan untuk mengatasi perasaan klaustreofobia sehubungan dengan graping bedah. Anestesi umum diperlukan bagi yang tidak bisa menerima anestesi lokal, yang tidak mampu bekerjasama dengan alasan fisik atau psikologis, atau yang tidak berespon terhadap anestesi lokal.
Ada dua macam teknik pembedahan tersedia untuk pengangkatan katarak: ekstrasi intrakapsuler dan ekstrakapsuler. Indikasi intervensi bedah adalah hilangnya penglihatan yang mempengaruhi aktivitas normal pasien atau katarak yang menyebabakan glaukoma atau mempengaruhi diagnosis dan terapi gangguan okuler lain, seperti      retinopatidiabetika.  

I. Komplikasi
Ambliopia sensori, penyulit yang terjadi berupa : visus tidak akan mencapai 5/5. Komplikasi yang terjadi : nistagmus dan strabismus dan bila katarak dibiarkan maka akan mengganggu penglihatan dan akan menimbulkan komplikasi berupa glukoma dan uveitis.

J. Asuhan Keperawatan
A.    Pengkajian
Pengkajian yang dapat dilakukan pada klien dengan katarak adalah
1.    Identitas
Nama                     : Tn./Ny./ An
Usia                       : Bisa terjadi pada semua umur
Jenis kelamin         : laki-laki dan perempuan
Alamat                  :

 
Dan keterangan lain mengenai identitas pasien. Pada katarak kongenital biasanya terlihat pada usia dibawah 1 tahun, sedangkan pasien dengan katarak juvenile terjadi pada usia <40 tahun, pasien dengan katarak persenil terjadi pada usia sesudah 30 – 40 tahun,dan pasien dengan katarak senilis terjadi pada usia >40 tahun.

2.   Keluhan utama:
-          Penglihatan kabur
-          Persepsi warna turun
-          Diplopia dan visus menurun
-          Ada hailo
-          Penglihatan memburuk pada siang hari/silau
-          Mata basah
Perawat harus menentukan apakah masalahnya hanya mengenai satu atau dua mata dan berapa lama pasien sudah menderita kelainan ini.
3.   Riwayat penyakit dahulu
-          Akibat trauma
-          Akibat radasi
-          Penggunaan kortikosteroid yang lama
-          Kelainan congenital
-          Adanya riwayat penyakit sistemik yang dimiliki oleh pasien seperti DM,  hipertensi, pembedahan mata sebelumnya , dan penyakit metabolic lainya yang memicu resiko katarak.

4.   Riwayat penyakit sekarang
-          Penglihatan kabur
-          Persepsi warna turun
-          Diplopia dan visus menurun
-          Ada hailo
-          Penglihatan memburuk pada siang hari
Merupakan penjelasan dari keluhan utama.


5.  Riwayat keluarga
-          Katarak bisa karena kongenital
-          Adanya riwayat kelainan mata famili derajat pertama.


B.   Data Dasar Pengkajian

1.    Aktifitas/istirahat
                             Gejala             : perubahan aktivitas biasanya/hobi sehubungan dengan      gangguan  penglihatan.
2.    Makanan/cairan
 -          Gejala              : muntah/mual (glaukoma akut ).

3.    Neurosensori
-          Gejala               : gangguan penglihatan (kabur/tak jelas), sinar terang       menyebabkan silau dengan kehilangan bertahap penglihatan perifer, kesulitan memfokuskan kerja dengan dekat/ merasa di ruang gelap (katarak). Penglihatan berawan/kabur, tampak lingkaran cahaya/ pelangi sekitar sinar, kehilangan penglihatan perifer, fotopobia (glaukoma akut ). Perubahan kacamata/ pengobatan tidak memperbaiki penglihatan.
-          Tanda               : tampak kecoklatan atau putih susu pada pupil ( katarak ). Pupil menyempit dan merah/mata keras dengan kornea berawan ( glaukoma darurat ). Peningkatan air mata.

4.   Nyeri/ketidaknyamanan
-          Gejala               : ketidaknyamanan ringan/ mata berair (glaukoma kronis). Nyeri tiba-tiba/ berat menetap atau tekanan pada sekitar mata,sakit kepala (glaukoma akut).





5.    Penyuluhan/ pembelajaran
                  -          Gejala               : Riwayat keluarga glaukoma, diabetes, gangguan sistem vaskuler. Riwayat stres, alergi, gangguan vasomotor,(contoh peningkatan tekanan vena ), ketidakseimbangan endokrin, diabetes (glaukoma). Terpajan pada radiasi, steroid/toksisitas fenotiazin.


C.    C Diagnosa Keperawatan
                    Pre operasi      :
                        ” Cemas berhubunan dengan kurang pengetahuan prosedur operasi katarak”
                          Intra operasi    :
                  ” Nyeri berhubungan tindakan operasi”
                          Pasca operasi  :
                  ” Resiko tinggi infeksi berhubungan peradangan luka post operasi

D.    Intervensi Keperawatan
Diagnosa
Tujuan
Intervensi
Rasional
Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan dan informasi pre operasi katarak






















































Nyeri berhubungan dengan tindakan operasi













Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan peradangan luka operasi
Cemas berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 10 menit dengan

 kriteria hasil:
-pasien tenang dan rileks.

  -dapat mengunkapkan  penyebab kecemasan.

- pasien mampu menontrol kecemasan.

- pasien dapat menjelaskan tentang tindakan operasi.



































Nyeri berkurang setelah dilakukan tindakan keparawatn selama 5 menit dengan.

kriteria hasil:
- pasien menatakan nyeri berkurang.

- wajah pasien kelihatan relaks.


- tidak terjadi infeksi selama dilakukan tindakan keperawatan
–kaji tingkat kecemasan pasien,ukur tanda-tanda vital

–berikan informasi yang dibutuhkan pasien sebelum dilakukan tindakan pembedahan.

- berikan teknik relaksasi serta suport mental yang melibatkan unsur-usur religi.

- berikan kesempatan pasien untuk mengungkapkan perasaannya sebelum operasi.





- anjurkan untuk menggunakan teknik manajemen relaksasi, guide imageri, visualisasi, dan napas dalam.

- diskusikan pentinnya cuci tangan sebelum menyentuh atau mengobati mata.

- tunjukan
teknik yang tepat untuk membersihkan mata dari dalam keluar dengan tisu basah/ bola kapas untuk tiap usapan, anti balutan dan masukkan lensa kontak keitika menggunakan



- tekankan untuk tidak menyentuh atau menggaruk mata yang dioperasi.











- observasi/ diskusikan tanda terjadinya infeksi contoh kemerahan, kelopak bekak, drainase purulen.
-kemungkinan peningkatan tekanan darah dan denyut nadi dengan disertai napas dangkal dan tidak teratur menunjukkan manifestasi cemas pada pasien.

- informasi yang adekuat dan peyampaian yang baik akan mengubah persepsi dan pola pikir pasien.

- pasien mampu mengontrol tingkat emosi dan kecemasannya, dengan mencoba beberapa teknik napas yang teratur, serta ketenangan jiwa yang berpengaruh terhadap tingkat emosi dan kecemasan.

- meningkatkan relaksasi dan koping dapat menurunkan TIO ( tekanan intra okuli ).




















- menurunkan jumlah bakteri pada tangan, mencegah kontaminasi area operasi.








 - teknik aseptik menurunkan resiko penyebaran bakteri dan kontaminasi silang.

- mencegah kontaminasi dan kerusakan sisi operasi









- infeksi mata terjadi 2-3 hari setelah prosedur dan memerlukan upaya intervensi.
     
     
E.      Implementasi
            Melaksanakan tindakan sesuai dengan intervensi yang telah direncanakan dan dilakukan sesuai dengan kebutuhan klien/pasien dan tergantung pada kondisinya. Sasaran utama pasien meliputi peredaan nyeri, mengontrol ansietas, pencegahan deteriosasi visual yang lebih berat , pemahaman dan penerimaan penanganan, pemenuhan aktivitas perawatan diri, termasuk pemberian obat, pencegahan isolasi sosial, dan tanpa  komplikasi.



F.    Evaluasi
Melakukan pengkajian kembali untuk mengetahui apakah semua tindakan yang telah dilakukan dapat memberikan perbaikan status kesehatan terhadap klien. Hasil yang diharapkan  :
1.    Mengalami peredaan nyeri.
2.    Tampak tenang dan bebas dari ansietas.
3.    Menghadapi keterbatasan dalam persepsi sensori.
4.    Menerima program penanganan dan menjalankan  anjuran secara aman dan   tepat.
 5.    Mempraktikan aktifitas perawatan diri secara efektif.
 6.    Berpartisipasi dalam aktifitas diversional dan sosial.
 7.    Mengucapkan pemahaman program terapi, perawatan tindak lajut, dan kunjungan ke  dokter.


BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Katarak adalah suatu keadaan patologik lensa di mana lensa rnenjadi keruh akibat hidrasi cairan lensa, atau denaturasi protein lensa. Kekeruhan ini terjadi akibat gangguan metabolisme normal lensa yang dapat timbul pada berbagai usia tertentu.
Macam-macam katarak :
1.      Katarak Kongenital
2.      Katarak Senile
3.      Katarak Juvenile
4.      Katarak komplikata
5.      Katarak diabetika
Katarak juga dapat disebabkan oleh beberapa faktor risiko lain, seperti:
1.    Katarak traumatik yang disebabkan oleh riwayat trauma/cedera pada mata.
2.    Katarak sekunder yang disebabkan oleh penyakit lain, seperti: penyakit/gangguan  metabolisme, proses peradangan pada mata, atau diabetes melitus.
3.    Katarak yang disebabkan oleh paparan sinar radiasi.            
4.    Katarak yang disebabkan oleh penggunaan obat-obatan jangka panjang, seperti kortikosteroid dan obat penurun kolesterol.
5.    Katarak kongenital yang dipengaruhi oleh faktor genetik (Admin,2009).
           
Diagnosa Keperawatan :
                  Ø  Pre operasi      :
                        ” Cemas berhubunan dengan kurang pengetahuan prosedur operasi katarak”
      Ø  Intra operasi    :
                  ” Nyeri berhubungan tindakan operasi”
      Ø  Pasca operasi  :
                  ” Resiko tinggi infeksi berhubungan peradangan luka post operasi




DAFTAR PUSTAKA

1.      Arif Mansjoer,dkk.(1999). Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia : Jakarta
2.      Barbara C, Long.(1996). Perawatan medikal bedah. EGC : Jakarta
3.      Brunner dan Suddarth.(2001).Keperawatan Medikal Bedah Vol. 3. EGC : Jakarta
4.      Corwin, J Elizabeth.(2000). “buku saku patofisiologi”. EGC : Jakarta
5.      Darling,H Vera dan Thorpe, R Margaret. (1996) “ Perawatan Mata”. Yayasan Essentia Medica dan Andi : Yogyakarta
6.      Doenges, E. Marilynn. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3.EGC : Jakarta
7.      Dorland. (1998).Kamus Saku Kedokteran Dorland.Edisi 25. EGC : Jakarta
8.      Ilyas Sidarta, dkk.(2008). Sari Ilmu Penyakit Mata. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia : Jakarta
9.      Juall Lyanda Carepnito.(2000). Buku Saku Diagnosa Keperawatan edisi 8. EGC: Jakarta
10.  N, Indriana Istiqomah.(2004). Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Mata. EGC : Jakarta
11.  Pearce C, Evelyn.(2009).” Anatomi dan fisiologi”. Gramedia : Jakarta
12.  Smeltzer, Suzanne C.(2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. EGC : Jakarta
Anonim, 2013/05. http://debyrahmad.blogspot.com/



BAGI YANG MAU DOWNLOAD ASKEP KATARAK, HARAP MENINGGALKAN KOMENTAR DAN FOLLOW TWITER YANG PUNYA BLOG INI @deby_masrun WAJIB !!!!!!!!